My Favourite Music

Minggu, 10 Agustus 2014

DARI HATI: Berkata baik atau lebih baik diam serta memuliakan...

DARI HATI: Berkata baik atau lebih baik diam serta memuliakan...: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kep...

Berkata baik atau lebih baik diam serta memuliakan tamu...

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”
[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Rabu, 06 Agustus 2014

Profil 4 (empat) Madzhab Fiqh

Imam Abu Hanifah


Beliau adalah Nu’man bin Tsabit bin Zuthy Al Kufy, lahir pada tahun 80 H di Kufah. Beliau belajar fiqih dengan jalan talaqqi dari syaikh Hammad bin Abi Sulaiman. Ia juga berguru dengan ulama besar pada masa tabi’in, seperti; Atha’ bin Abi Rabah dan Nafi’.

Sejatinya ada ulama fiqh yang sangat masyhur pada zamannya; seperti : Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri, Syuraik bin Abdurrahman An Nakha’i, dan Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Laila. Hanya sayangnya fiqih dan fatwa-fatwa mereka tidak dibukukan yang menyebabkan mazhab fiqih mereka tidak dikenal pada masa sesudahnya.

Ia masih merasakan hidup pada masa 4 sahabat; Anas bin Malik, Abdullah bin Abi 'Aufa, Sahl bin Sa'ad As Saidi dan Abu Thufail Amir bin Wailah. Imam Dzahabi yang menukil dari Khatib Al Baghdadi didalam tarikhnya bahwasannya Abu Hanifah pernah bertemu dengan Anas bin Malik.

Ushul mazhab Abu Hanifah yaitu: Al Qur’an, sunnah, perkataan sahabat dan tabi’in, ijtihad, istihsan dan ‘urf. 

Adapun murid-muridnya yang telah berjasa besar dalam upaya untuk membesarkan dan menyebarkan mazhab hanafi adalah;
  1. Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al Anshari, Lahir tahun 113 h, ia terkenal dengan pakar hadits dan sunnah. Ia pula yang pertama kali menulis kitab fiqih dalam mazhab hanafi. Seperti; kitab shalat, kitab zakat, dan lain-lain. Dan ia pula yang telah membukukan perkataan dan fatwa-fatwa Abu hanifah; seperti: Al Atsar, Al Kharaj dan perbedaan antara Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila. Bahkan ia pula orang yang pertama kali menulis kitab ushul fiqih pada mazhab hanafi, dan menyebarkannya kepenjuru negeri. Meninggal pada tahun 183 H.
  2. Muhammad bin Hasan Asy Syaibani, lahir tahun 132 H. Ia tidak lama mulazamah dengan Abu Hanifah, kemudian ia lanjutan titian ilmu dari Abu Yusuf. Ia menyebarkan mazhab hanafi di Bagdad. Wafat tahun 189 H. Karya-karyanya merupakan rujukan asasi pada mazhab ini; seperti: siyar kabir dan siyar shaghir serta Az ziyadat. 
  3. Zufar bin Al Hudzail, yang dikenal dengan ahli hadits kemudian cenderung kepada ahli ra’yi dan begitu mumpuni dalam hal qiyas. 
Mazhab hanafi hingga sekarang banyak menyebar di Iraq, India, China dan Iran. Abu Hanifah meninggal tahun 150 H, karena ia diracun oleh khalifah bani Abbasiyah Abu Ja’far Al Manshur, karena ia menolak menjadi qadhi pada masa pemerintahannya.

Imam Malik bin Anas


Beliau adalah Abu Abdillah Malik bin Anas bin Abi Amir Al Madani Al Asbahi, lahir di Madinah tahun 93 H. pada masa pemerintahan Al Walid bin Abdul Malik Al Umawi. Ia menimba ilmu dari Al A’raj, Ibnu Syihab Az Zuhri, Nafi’ dan Rabiah Ar Ra’yi. Ia lebih dikenal dengan kepakarannya dibidang hadits. Dan bahkan hadits Rasulullah saw yang paling shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Abi Zinad dari Al A’raj dari Abi Hurairah. 

Ushul mazhab Imam Malik yaitu Al Qur’an, sunnah, amalan ahlul Madinah, perkataan sahabat, maslahah mursalah, qiyas dan saddudzarai’. Murid-muridnya yang menonjol dan berjasa mengembangkan mazhab maliki adalah:
  1. Abdurrahman bin Qashim, yang telah membukukan mazhab maliki. 
  2. Abdullah bin Wahb, mulazamah dengan Imam Malik selama 20 tahun, lalu menyebarkan mazhab maliki di Mesir.
  3. Asy’ab bin Abdul Azis, ia mengarang sebuah kitab fiqih maliki yang bernama : Mudawwanah Asy’ab.
  4. Asad bin Furad, yang telah menyebarkan mazhab maliki di Maroko, dan lain-lain.
Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H.

Imam Syafi’i



Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdi Manaf, nasabnya bertemu dengan Rasulullah saw di Abdi Manaf. Dilahirkan di Gaza Palestina tahun 150 H, yaitu tahun dimana Abu Hanifah berpulang keharibaan Allah swt. 

Menimba ilmu fiqih dan hadits dari Imam Malik rahimahullah, hingga sang guru meninggal dunia tahun 179 H. Dan juga ia menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Hasan, Ibrahim bin Sa’ad, Yahya bin Hasan, Umar bin Abi Salamah dan yang lainnya. Ia menulis kitab Al Umm (fiqih) dan Ar risalah (ushul fiqih). 

Ushul mazhab Imam Syafi’i adalah Al Qur’an, sunnah, ijma’, perkataan sahabat, dan qiyas. Mazhab Syafi’i banyak tersebar di daerah Mesir, Iraq, Khurasan, Iran, Paris, Syam, dan lain-lain. Hanya saja mazhab syafi’i tak mampu menembus Maroko dan Spanyol, karena yang berkembang disana adalah mazhab maliki.
Murid-muridnya yang cukup termasyhur adalah: 
  1. Muhyiddin An Nawawi, pengarang kitab Al Majmu’.
  2. Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al ‘Id.
  3. Taqiyuddin As Sabki.
  4. Sirajuddin Al Balqini. Dan lain-lain.
Beliau kembali keharibaan Allah swt pada tahun 204 H. di Mesir.


Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) 



Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah Al Adnani Asy Syaibani. Lahir di Bagdad tahun 164 H. Ia menimba ilmu dari Imam Syafi’i, Sufyan bin ‘Uyainah, Yahya Al Qathan, Al Walid bin Muslim, Abu Yusuf, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, Abdurrazaq bin Hammam, Waki’ bin Al Jarrah dan lain-lain.
Beliau mulai mengumpulkan hadits-hadits dengan sanadnya ketika ia berumur 16 tahun, namun ia belum menulisnya. Disaat ia merasakan bahwa ajalnya telah dekat, ia mengumpulkan anak-anaknya dan membacakan hadits kepada mereka untuk ditulis. Dan apa yang kita lihat dari musnad Imam Ahmad sekarang ini adalah apa yang telah disusun dan ditulis oleh puteranya Abdullah. 

Syaikh Ahmad Al Banna ayahanda Hasan Al Banna asy syahid telah mengumpulkan musnad Imam Ahmad dalam bab-bab fiqih, yang diberi nama: Al Fathu Ar rani ‘Ala Musnad Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani. 

Murid-muridnya yang cukup masyhur adalah: Shalih dan Abdullah (keduanya adalah puteranya), Abu Daud, Abu Zur’ah, Ali Bin Al Madini, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari dan Imam Muslim serta yang lainnya. 

Ushul mazhabnya yaitu Al Qur’an, sunnah, fatwa-fatwa sahabat, memilih fatwa sahabat yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan sunnah bila mereka berselisih, hadits mursal dan dha’if, dan qiyas. 

Mazhab hanbali kurang berkembang penyebarannya dinegeri-negeri Islam, walaupun memiliki ulama-ulama yang handal. Ibnu Khaldun memberikan penilaian; hal yang paling asasi sebagai penyebabnya adalah karena mazhab ini jauh dari warna ijtihad. Abu Zahrah membantah penilaian Ibnu Khaldun dengan perkataannya; mazhab hanbali kurang mendapat sambutan karena keberadaannya yang  paling bungsu dari mazhab yang empat, dan juga karena para pengikut imam Ahmad tidak menyukai jabatan dan qadhi. 
Dan yang ma’ruf bahwa mazhab ini berkembang di daerah Najd secara khusus dan Saudi Arabia secara umum. Wallahu A’lam bishawab.
>>Semoga bermanfaat<<

Hadits Tentang Niat

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Galeri Konser Musik Kemanusiaan Peduli Palestina

ALIPPA
(Aliansi Peduli Palestina)
Nuansa Management | DPU-DT | ANIMO


















Minggu, 03 Agustus 2014

Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri

Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Saudaraku, semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Alloh SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa izin Alloh. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Alloh tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Alloh.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita yang berjasa, melainkan Alloh-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan terwujudnya suatu kebaikan yang sejatinya berasal dari Alloh. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena seandainya Alloh menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain, maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

So, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, sebetulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Alloh-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Alloh baginya. Namun, seandainya sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.


Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.

Saudaraku, percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan seorang ibu/ bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, InsyaAlloh. Alloh-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Seandainya ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali. Seandainya kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Alloh karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diizinkan Alloh bisa mendorong mobil. Silakan dibayangkan seandainya ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa...?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Alloh yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Alloh yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Alloh SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, saya percaya bahwa orang yang gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah dalam menjalani kehidupan...

>> Semoga Bermanfaat <<